“Benarkah?, Umar bin Khattab mengubur hidup-hidup anaknya?? “

Saya sudah sering mendengar cerita ini dari guru-guru saya semasa di SMP (Semoga Allah memberi mereka petunjuk). mungkin karena sifat saya yang masih kurang kritis di masa itu, jadi saya begitu mudah menerima cerita ini dan menjadi ikut-ikutan menyebarkannya. pada akhirnya, salah seorang guru saya di SMA pernah menceritakan bahwa kisah Umar bin Khattab yang mengubur anak perempuannya itu merupakan kisah yang Dusta.. berikut bukti yang saya kutip dar berbagai sumber.

Beredar banyak kisah yg meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab Radliyallahu ‘anhu,

khalifah ke-2 setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiallahu ‘anhu, pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya di masa Jahiliyah (sebelum beliau masuk islam), Benar atau tidak kah kisah ini? Berikut ini adalah penjelasan yg mungkin bisa menjadi sedikit bahan pertimbangan dan kajian kepada anda dalam menyikapi kisah ini:

Riwayat yang menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab Radliyallahu ‘anhu pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya di masa Jahiliyah (Sebelum beliau masuk islam) adalah riwayat yg meragukan dan Bathil (Tidak sah, Cacad, Invalid).

Diantara bukti keraguan dan kebathilannya adalah sebagai berikut:

(1). Riwayat tersebut tidak ada sama sekali didalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik itu kitab hadits shahih, Hadits dla’if, Bahkan di dalam kitab tarikh (sejarah Islam) yang ditulis para ulama Ahlus Sunnah pun tidak ada dan tidak pernah disebutkan.

(2). Riwayat ini sangat sering dan banyak disebutkan serta disebar luaskan oleh kaum Syi’ah dan Rafidlah yg sangat tidak menyukai kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan para shahabat Rasulullah SAW yg lainnya.

(3). Mengubur hidup-hidup anak perempuan, adalah bukan tradisi dan kebiasaan keluarga Umar bin Khattab

Radliyallahu ‘anhu dan kabilahnya dari Bani Adiy di masa Jahiliyah. Sebagai buktinya, Umar bin Khattab

Radliyallahu ‘anhu menikah dengan seorang wanita yang bernama Zainab binti Mazh’un (saudari Utsman bin

Mazh’un R.A) dan melahirkan beberapa anak, diantaranya: Hafshah, Abdurrahman dan Abdullah bin Umar. Hafshah adalah anak perempuan Umar Bin Khaththab R.A yang paling besar. Ia dilahirkan 5 tahun sebelum

diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul. Demikian pula Umar Bin Khattab R.A memiliki saudari kandung yang bernama Fathimah binti Al-Khattab, ”Pertanyaannya”, kalau sekiranya

mengubur hidup-hidup anak perempuan adalah suatu tradisi dan kebiasaan keluarga Umar bin Khattab dan Bani Adiy, maka kenapa Hafshah binti Umar bin Al-Khattab dan Fathimah binti Al-Khattab dibiarkan masih hidup hingga dewasa? Bahkan Hafshah binti Umar bin Al-Khattab menjadi salah satu istri Nabi Muhammad SAW, Padahal Hafshah adalah anak perempuan Umar bin Khattab yg paling besar. “Jika memang kisah itu benar”, Pertanyaannya adalah, Kenapa yg dikubur hidup-hidupnya anak perempuannya yg paling kecil?? (yg dilahirkan setelah Hafshah). Dan kenapa kejadian ini tidak pernah diceritakan oleh anak-anak Umar bin Khattab dan keluarganya setelah mereka memeluk agama Islam??.

(4). Kalau pun kita menganggap bahwa riwayat tersebut benar dan shahih, kita memandang tidak ada faidah dan manfaat sedikit pun dari menceritakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Karena hal itu dilakukan Umar bin Khattab di masa Jahiliyyah (Sebelum beliau masuk islam). Bukankah setelah Umar bin Khathab Radliyallahu ‘anhu masuk Islam, maka insya Allah semua dosa-dosa dan kesalahannya, termasuk perbuatan kemusyrikan dan kekufurannya (yg merupakan dosa paling besar diantara dosa besar) dihapuskan dan diampuni oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT

ﻗُﻞْ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺇِﻥْ ﻳَﻨْﺘَﻬُﻮﺍ ﻳُﻐْﻔَﺮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﻗَﺪْ ﺳَﻠَﻒَ

“Katakanlah (hai Muhammad) kepada orang-orang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka dari dosa-dosa mereka yang sudah lalu”. (QS.l-Anfal 8:8). Dan juga berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW kepada Amr bin Al-Ash Radliyallahu ‘anhu ketika ia masuk Islam,

ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻥَّ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻪُ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa (masuk) Islam itu akan menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan sebelumnya ” (HR. Muslim:121 dari Amr bin Al-Ash R.A).

(5). Terdapat hadits shahih yang menunjukkan bahwa Umar bin Khaththab Radliyallahu ‘anhu tidak pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup di masa Jahiliyyah. Yaitu riwayat berikut ini:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻌﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺑﺸﻴﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﺳﻤﻌﺖ


ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻳﻘﻮﻝ: ﻭﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ


ﺍﻟْﻤَﻮْﺀُﻭﺩَﺓُ ﺳُﺌِﻠَﺖْ ‏) ﺍﻟﺘﻜﻮﻳﺮ 8/ ، ﻗﺎﻝ : ﺟﺎﺀ ﻗﻴﺲ


ﺑﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ


ﻗﺎﻝ : ‏( ﺇﻧﻲ ﻭﺃﺩﺕ ﺛﻤﺎﻧﻲ ﺑﻨﺎﺕ ﻟﻲ ﻓﻲ


ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ . ﻗﺎﻝ : ﺃﻋﺘﻖ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﻨﻬﺎ


ﺭﻗﺒﺔ . ﻗﻠﺖ : ﺇﻧﻲ ﺻﺎﺣﺐ ﺇﺑﻞ . ﻗﺎﻝ : ‏( ﺃﻫﺪ ﺇﻥ


ﺷﺌﺖ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﻨﻬﻦ ﺑﺪﻥ

An-Nu’man bin Basyir R.A, berkata: “Aku pernah mendengar Umar bin Khaththab berkata ketika ditanya

tentang firman Allah, “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya “. (QS.At-Takwir: 8). Umar bin Khattab R.A, menjawab: “Qois bin Ashim pernah mendatangi Rosulullah SAW seraya berkata,

“Sesungguhnya aku pernah mengubur hidup-hdiup delapan anak perempuanku di masa Jahiliyyah”. Maka Nabi Muhammad SAW berkata (kepadanya), “Merdekakanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan (yang engkau kubur hidup-hidup)”. Aku jawab, “Aku memiliki unta”. Nabi berkata, “jika engkau mau, bersedekahlah dengan seekor unta untuk setiap anak perempuanmu yang engkau kubur hidup-hidup”.

(Diriwayatkan oleh Al-Bazzar:I/60, Ath-Thabraniy di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir:18/337, dan Al-Haitsamiy, berkata: “Dan para perawi (dalam isnad) Al-Bazzar adalah para perawi yang ada dalam kitab Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhori / Muslim), kecuali Husain bin Mahdi Al- Ailiy, dia perawi yang tsiqah (terpercaya)”. Lihat Majma’ Az-Zawaid VII/283. Dan hadits ini dinyatakan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Silsilah Al-Ahadits ash-Shahihah: 3298. Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab Radliyallahu ‘anhu ini menerangkan tentang kaffarah (penebus dosa) bagi orang yang pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya di masa Jahiliyyah. Tatkala Umar bin Khaththab meriwayatkan tentang

perbuatan Qois bin Ashim, dan beliau tidak menceritakan tentang dirinya dalam perbuatan tersebut, maka ini

membuktikan bahwa Umar bin Khaththab tidak pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya, sebagaimana riwayat bathil yg beredar ditengah kaum muslimin ini.

Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yg bermanfaat. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari bahaya riwayat-riwayat dusta dan batil dalam urusan agama Islam. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam artikel singkat ini, Wallahu ‘alam bish-showab.

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…..

Advertisements

5 comments

  1. EPU · March 22, 2015

    Reblogged this on erypurnama's Blog and commented:
    Subhanalloh… Banyak yg membaca dan mengartikannya tdk sepenuhnya

    Like

  2. ayahnaufal.wordpress.com · April 4, 2016

    alhamdulillah, penjelasan penuh faedah.
    jazakallahu khairan.
    hanya saja mau bertanya, background gambar pada title web antum, sepertinya foto gemerlapnya kehidupan malam.
    Afwan jika salah lihat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s